Kamis, 04 September 2014

Loyalitas Konsumen dan Komunitas Brand

Loyalitas Konsumen dan Komunitas Brand

Telah selama bertahun-tahun ilmu sosial mencoba memahami manusia dengan ide mengenai komunitas. Komunitas sering dipahami sebagai sebuah unit sosial yang memiliki nilai-nilai bersama. Sosiolog Jerman Ferdinand Tönnies (1887) membedakan antara komunitas dan perkumpulan (Gemeinschaft dan Gesellschaft), di mana dia menyatakan bahwa komunitas memiliki ikatan yang lebih erat karena adanya kesatuan kehendak. Keluarga adalah gambaran komunitas yang paling sempurna. Sedangkan perkumpulan adalah kelompok yang anggotanya ambil bagian di dalamnya karena kehendak pribadi. Namun dalam kenyataannya tidak ada kelompok yang murni komunitas maupun murni perkumpulan. Misalnya kelompok religius adalah bentuk komunitas di mana orang-orang yang tergabung di dalamnya bersatu karena nilai-nilai bersama yang mereka yakini, namun tidak menutup kemungkinan bahwa mereka bergabung karena ada rencana mereka yang lain, misalnya masuk kelompok religius tertentu agar diakui.
Komunitas paling tidak memiliki 4 unsur yaitu: keanggotaan, pengaruh, integrasi dan pemenuhan kebutuhan, serta berbagi relasi sosial (McMillan & Chavis, 1986). Sebagai contoh ilustrasi, pada sebuah sekolah menengah atas yang belum memiliki tim basket, beberapa murid yang senang bermain basket berkumpul dan bermain bersama melawan group basket dari sekolah lain yang sedang main ke sekolah mereka. Dalam kelompok itu, mereka bermain sekuat tenaga agar mampu memenangkan permainan itu. Mereka di satukan oleh sekolah yang sama. Ketika mereka menang maka muncul kebanggaan mereka sebagai satu kelompok. Begitulah mereka selalu bersama ketika bermain melawan kelompok lain. Karena selalu menang maka mereka semakin dikenal, baik di sekolah mereka maupun di luar sekolah. Untuk semakin meunjukkan identtitas mereka, maka setiap kali mereka bermain, maka mereka memakai pakaian yang seragam.
Dalam pasar komunitas “asli” semacam ini mulai dikaburkan dan digunakan untuk memperkuat daya jual produk tertentu. Setelah abad ke dua puluh di dalam pasar masal, masyarakat berubah menjadi masyarakat “brand (O’Guinn & Nuniz, 2005), di mana komunitas dalam bentuk asli berubah menjadi komunitas brand. Ada tiga hal yang hidup dalam masyarakat seperti ini: (1) Brand menjadi hal yang dibutuhkan dalam keseharian; (2) pada masyarakat sekarang, brand memiliki arti yang besar pada beberapa level; (3) komunitas hadir dalam berbagai bentuknya di dalam pasar.
Seperti halnya kritik dari Adorno dan Horkneimer (2002), pasar dan industri telah menciptakan suatu budaya sendiri mengenai komunitas ini. Dalam budaya ciptaan industri itu, komunitas brand menjadi sebuah sasaran pasar yang diharapkan akan mengkonsumsi secara loyal produk dengan brand tertentu. Komunitas brand adalah sebuah komunitas yang secara khusus terikat bukan berdasarkan geografis, melainkan serangkaian struktur relasi sosial diantara orang yang memuja brand tertentu (Jr & O'Guinn, 2001). Sedangkan brand adalah bisa disebut merek, merupakan nama yang memberi label pada produk-produk dari proudsen tertentu. Namun dalam komunitas brand seperti ini, pilihan konsumsi mereka tidak hanya pada pruduk asli namun juga bisa meluas pada pruduk lain yang memeiliki label dari brand tersebut. Misalnya sebuah komunitas pecinta mobil dengan merek Volkswagen (VW), tidak hanya membeli dan memiliki mobil dengan merek tersebut, namun juga berusaha memiliki berbagai asesoris yang bahkan tidak diproduksi oleh perusahaan itu, misalnya kaus dengan gambar VW antik. Komunitas seperti ini diharapkan oleh penjual menjadi konsumen yang loyal untuk membeli produk-produk tersebut.

Komunitas Brand
Bagaimanakah komunitas seperti ini dapat terbentuk juga merupakan hal yang perlu untuk diperhatikan, terutama sangat berguna bagi pasar untuk menciptakan pasar mereka yang bisa loyal. Hal dasar yang membentuk suatu komunitas adalah adanya kesamaan yang menyatukan mereka (McAlexander, Schouten, & Koenig, 2002). Dalam komunitas brand ini maka yang menyatukan mereka adalah kesamaan pemujaan pada merek tertentu. Misalnya komunitas Iphone, adalah mereka yang memuja produk Iphone dan segala turunannya. Ikatan inti di dalam komunitas ini, selain antar anggota adalah juga antara konsumen dengan merek itu, kosumen dengan perusahaan, dan konsumen dengan produk yang mereka gunakan. Ikatan-ikatan itu adalah hal yang membuat komunitas itu semakin kuat.
Dalam penelitian McAlexander, Schouten, & Koenig (2002), dinyatakan bahwa seorang memulai menyukai suatu brand ketika dia sudah memutuskan untuk membeli produk dengan merek tersebut. Susan, salah satu responden, setelah mencari nasehat dari teman dan ahli, serta pencariannya di internet kemudian memutuskan untuk membeli mobil Jeep 101. Setelah proses pembelian itu, perusahaan dan penjual dengan dia tetap terjalin komunikasi, hal ini semakin menguatkan dia untuk menyukai brand ini. isformasi yang terus dia dapatkan dari perusahaan membuatnya merasa berharga dan dan merasa tidak diabaikan. Ketika dia bertemu dengan para pemilik Jeep, dia merasa ada kesamaan dengan mereka dan membuatnya merasa tidak sendiri. Hubungannya dengan Jeep membuat dia punya relasi dengan yang lain. Relasi itu semakin diperkuat ketika sesama pemilik Jeep kemudian menyelenggarakan acara bersama dengan dasar ikatan dengan brand jeep. Mereka kemudian membentuk sebuah komunitas yang saling mendukung untuk membuat acara konsumsi dengan label “Jeep”. Ini adalah sepenggal pengalaman yang menggambarkan bagaimana keempat jenis relasi yang berpusat pada pelanggan (McAlexander, Schouten, & Koenig, 2002) memperkuat ikatan mereka sebagai sebuah komunitas.
Selain empat bentuk relasi yang berpusat pada pelanggan di atas, juga ada tiga ciri-ciri yang mampu menguatkan adanya sebuah komunitas brand. Tiga ciri dari komunitas brand adalah kesadaran kesamaan, adanya ritual dan tradisi, perasaan kewajiban pada komunitas dan anggotanya (O’Guinn & Nuniz, 2005). Kesamaan karena pemujaan pada brand tertentu merupakan alasan utama mereka terhubung. Kemudian tradisi-tradisi khusus yang mereka ciptakan, misalnya sebuah acara penyambutan anggota baru, perlumbaan tiap tahun, dan sebaginya, merupakan hal yang semakin mengikat mereka sebagai komunitas. Keterikatan itu kemudian membangkitkan di dalam diri para anggota sebuah kewajiban moral untuk tetap terhubung dengan komunitas dan para anggotanya, misalnya punya kewajiban untuk membantu anggota komunitas yang terkena musibah.

Brand dan Diri
Suatu brand menjadi semakin kuat bila hal itu mampu menggambarkan diri seseorang. Hal ini disebut sebagai brand personality, yaitu karakteristik manusia yang diasosiasikan dengan merek tertentu (Aaker J. L., 1997). Misalnya Mercedes adalah sebuah merek mobil yang diasosiasikan dengan kelas atas, glamor dan seksi. Karena asosiasi yang diciptakan itu membentuk gambaran seperti itu, mkaa orang yang ingin dinilai sebagai atau merasa memiliki karakteristik kelas atas, glamor dan seksi akan memilih produk ini supaya dipandang atau diperkuat karakteristik dirinya.
Namun bagaimanakah brand personality itu terbentuk? Salah satu hal yang mampu membentuk gambaran itu adalah dengan diciptakannya sebuah narasi. Narasi itu adalah sebuah kisah mengenai pelanggan dengan menggunakan produk dari merek tertentu diceriterakan sebagai seseorang dengan karakteristik diri tertentu (Escalas, 2004). Misalnya seseoarang yang mengendarai mobil VW kodok dikenali sebagai pribadi yang cerdas dan sederhana. Kisah ini adalah penciptaan makna dari simbol-simbol yang dimiliki oleh produk dengan merek tertentu. Dengan demikian seorang pribadi akan terikat dengan brand tertentu karena kisah tersebut salah satunya berkaitan dengan tujuan yang ingin diraih oleh seseorang.
Kisah ini terbentuk dan ditanamkan dalam diri masyarakat dengan menggunakan iklan (Escalas, 2004). Pertama iklan membangkitkan proses naratif, kemudian proses naratif yang terjadi dalam diri individu membuat dia semakin terikan dengan brand tertentu. Ikatan diri dengan brand inilah yang kemudian mendorong seseorang atau sekelompok orang untuk berperilaku tertentu sesuai dengan gambaran itu.
Salah satu kisah yang mampu dibuat untuk meningkatkan ikatan diri dengan brand adalah dengan mengasosiasikan merek tertentu dengan budaya tertentu. Misalnya merek Beer Corona diasosiasikan sebagai beer orang Mexico (Holt D. B., 2005). Dengan simbol-simbol yang ditampilkan maka orang Mexico semakin merasa diri mereka ketika mereka mengkonsumsi Corona, lebih dibandingkan merek yang sudah lama yaitu Heineken. Strategi ini ternyata berhasil dan terbukti meningkatkan penjualan Corona. Dengan semakin meningkatnya penjualan Corona di Mexico maka semakin diterimanya gambaran bahwa orang Mexico adalah yang mengkonsumsi Corona.
Semakin adanya kesingkronan antara perilaku diri dengan perilaku brand maka hubungan antara brand dengan diri semakin kuat dan bertahan lama (Fournier, 1998). Perilaku yang terus-menerus tersebut membuat seseorang semakin tidak terpisahkan dari merek tertentu. Misalnya contoh orang Mexico diatas, dia akan semakin menjadi orang Mexico apabila dia adalah pengkonsumsi beer Corona.

Loyalitas Konsumen
Ikatan yang makin kuata antara diri dan merek tertentu membuat diri semakin tidak terpisahkan dari merek tertentu. Konsekwensi dari hal ini bagi pasar adalah bahwa pasar harus memahami karakteristik pribadi yang ada di sana. Bahkan apabila suatu pasar telah menjadi fanatic dengan suatu merek tertentu, suatu produk baru dapat muncul dengan menggunakan label yang ada pada merek yang disukai oleh pasar itu.
Disinilah pentingnya branding di dalam pasar, yaitu menciptakan suatu gambaran tertentu dari suatu produk agar mampu diterima oleh masyarakat dalam pasar tersebut (Holt D. B., 2002). Produsen yang mampu menembus pasar adalah produsen yang mampu juga menciptakan budaya tertentu yang unik dan mampu diterima oleh masyarakatnya.

Komunitas konsumen adalah sesuatu yang perlu pula dirawat oleh produsen agar menciptakan suatu pasar yang loyal. Apa bila seseorang telah terikat pada suatu pasar tertentu, tentunya dia akan musah untuk terus mengkonsumsi produk dengan merek tersebut tanpa perlu berfikir panjang lagi. Di sisi lain kosomen harus sadar bahwa mereka telah diperdaya oleh pasar, sehingga kosomen harus tetap kritis.